Monday, April 1, 2013


Oleh
Sigit Rahmanto

Abstraksi

Zaman perundagian adalah zaman di mana manusia sudah mengenal pengolahan logam. Hasil-hasil kebudayaan yang dihasilkan terbuat dari bahan logam. Adanya penggunaan logam, tidaklah berarti hilangnya penggunaan barang-barang dari batu. Penggunaan bahan dari logam tidak begitu tersebar luas sebagaimana halnya bahan dari batu. Persediaan logam sangat terbatas. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki barang-barang dari logam. Kemungkinan hanya orang-orang yang mampu membeli bahan-bahan tersebut. Keterbatasan persediaan tersebut memungkinkan barang-barang dari logam diperjualbelikan. Adanya perdagangan tersebut dapat diperkirakan bahwa manusia pada zaman perundagian telah mengadakan hubungan dengan luar.

Kata Kunci : Prasejarah, Manusia Purba, Hasil Kebudayaan

.      
Penduduk

Sisa-sisa Manusia
Pada masa kini manusia di Indonesia dapat kita ketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat. Di antaranya adalah penemuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali), dan Melolo (Sumba), bagian-bagian rangka yang banyak jumlahnya atau sisa budaya yang di temukan bersamanya.   Rangka Anyer Lor dalam tempayan tahun 1954, adalah laki-laki dengan rahang bawah yang tegap dengan gigi-gigi yang masih ada. Penemuan rangka yang berusia dua puluh tahunan dengan  rahang dan gigi-gigi yang memperlihatkan ciri-ciri yang sama.
Pada rangka ini unsur Austrolomelanesid masih terlihat. Temuan Gilimanuk meliputi lebih dari 100 buah rangka. Pada penemuan ini ciri mongoloid mulai banyak menampakkan diri pada muka dan giginya. Dalam kumpulan ini terdapat rangka anak-anak maupun orang tua. Dari Melolo, Sumbawa Timur ditemukan banyak tengkorak, tetapi hanya 17 tengkoak yang masih bisa diselidiki dengan baik. Tengkorak tersebut kabanyakan berbentuk lonjong, rahang bawah tebal, tetapi tidak terlalu besar. Selain rangka tersebut terdapat pula sisa-sisa manusia di tempat lain seperti Buni (Jawa Barat). Sangiran, Plawangan dan Gunung Wingko (Jawa Tangah). Muncar, Pacitan dan Jembar (Jawa Timur). Ulu Leang, Bada, Nupu, Besoa, Paso, dan Sangihe (Sulawsi). Palindi, Melolo, dan Lumbanampu (Sumba). Gua Alo dan Liang Bua (Flores). Lewoleba (Lembata). Ubai Bobo dan Gilioe (Timor). Semuanya memperlihatkan ciri-ciri Austrolomelanesid dan Mongoloid dalam perbandingan yang berbeda-beda.

Populasi Lokal
Pada masa perundagian perkembangan perkampungan sudah mulai besar. Dengan ber-satunya beberapa kampung akan terbentuk desa-desa besar tempat  orang-orang di daerah pertanian di sekitarnya melakukan perdagangan. Dengan begini kelompok penduduk akan semakin bertambah. Kebanyakan penemuan sisa-sisa manusia bayak ditemukan di daerah sekitar pantai. Perpindahan penduduk atau pelayaran pada masa ini lebih banyak terjadi dari pada masa bercocok tanam. Pembauran antara populasi-populasi lokal pun semakin banyak terjadi sehingga peradaban-peradaban asli mereka makin banyak berkurang, meskpun daerahnya terletak saling berjauhan.
Kapadatan penduduk semakin meningkat sedikit demi sedikit sampai 20 per km2. Jumlah orang yang mencapai usia trua semakin banyak dan kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki. Di Gilimanuk misalnya, kematian anak-anak masih tinggi. Umur harapan waktu lahir hanya 15,8 tahun, dan pada usia 50 tahun 7,5 tahun.     Angka kematian adalah 63,4 per 1000 tahun.
Tetapi cara-cara lain seperti pengguguran, larangan kawin bagi janda, dan pantang seks pada keadaan waktu tertentu mungkin sudah di jalankan.

Kemahiran membuat alat

Benda-benda perunggu
Kebudayaan perunggu yang masuk di indonesia itu hanya kebudayaan perunggu bagian yang terakhir saja. Buktinya di Indonesia hanya terdapat kapak perunggu bentuk kapak sepatu saja. Kapak-kapak perunggu yang tertua,bentuknya masih meniru bentuk kapak batu. Kapak itu ditusukkan kedalam kayu tangkainya atau diikatkan padanya. Lambat laun bentuknya berubah dan akhirnya disebut Kapak sepatu (Tullenaxt, hache a doouille). Kapak dengan bentuk sepatu itu pemasangan tangkainya dimasukkan kedalam kapak.hanya kapak perunggu dengan bentuk yang termuda ini (j.i.kapak sepatu) terdapat di indonesia. Jadi hanya kebudayaan perunggu yang masuk di indonesia.

Nekara Di Indonesia
Nekaraadalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup ,jadi dapatlah di kira-kira disamakan dengan dandang ditelungkupkan. Di antara nekara-nekara yang ditemukan di negeri kita hanya beberapa sejarah yang utuh. Bahkan yang bayak merupakan pecahan-pecahan belaka.

Perkembangan perhiasan Nekara
Nekara yang paling tua perhiasannya berupa gambar-gambar orang,penari, dan prajurit, gambar binatang seperti kuda dan gajah, gambar perahu dan sebagainya. Yang banyak digunakan sebagai perhiasan adalah kedok atau gambar muka orang yang dianggap mempunyai kekuatan gaib. Tempatnya pada perut nekara. Bidang atas nekara disekitar gambar biantang diberi perhiasan simpai yang diisi dengan perhiasan ularan (slangvorming motief), sedang tepinya diberi perhiasan tangga.

Perkembangan bentuk nekara
Sejalan dengan perubahan perhiasan,bentuk nekara juga mengalami bentuk perubahan. Nekara yang muda,kecil,dan ramping kalau dibandingkan dengan nekara-nekara yang tua. Kaki dan kepalanya lebih panjang,sedangkan perutnya menjadi kecil dan pendek. Nekara yang demikian banyak ditemukan di Flores dan Alor. Di Alor dinamakan Moko. Di dalam sebuah kuil di Pedjeng,Bali disimpan sebuah nekara. Bentuknya seperti moko,tetapi besar sekali tingginya hampir 1.90 m.nekara ini disebut bulan pedjeng.tidak semua nekara atau moko berasal dari zaman prasejarag. Sampai beberapa waktu yang lalu di Gresik orang masih membuat moko. Dari sana moko dibawa ke Alor. Diduga ada moko yang perhiasannya menunjukkan pengaruh kesenian hindu, bahkan ada juga yang memakai perhiasan modern,antara lain lambang Inggris.

Fungsi nekara
Semula di Kabupaten Alor nekara tipe pejeng atau juga disebut moko digunakan sebagai alat pembayaran. Nekara diperlakukan sebagai alat pembayaran sehingga pembayaran dilakukan dengan nekara, baik untuk membayar pajak, pembelian hasil bumi pembayaran hasil kerja seperti pembuat perahu, maupun untuk ditukarkan dengan lilin, madu, kain dan burung. Nekara juga digunakan untuk pemayaran denda, pajak atau upeti kepada raja. Tetapi keadaan ini kemudian berubah ketika pemerintah Belanda pada abad ke-18 datang ke Pulau Alor.
Pemerintah Belanda melarang penggunaan moko atau nekara tipe pejeng sebagai alat pembayaran. Semua penduduk diwajibkan menggunakan mata uang Belanda yaitu gulden sebagai alat pembayaran. Untuk kelancaran gagasan tersebut Pemerintah Belanda mewajibkan setiap warga untuk mengumpulkan nekara yang dimilikinya dan rakyat diwajibkan untuk membayar pajak dan denda-denda dengan nekara untuk mempecepat pengumpulannya.
Nekara yang terkumpul selanjutnya dibawa ke kampung atau tempat lain untuk di hancurkan atau di daur ulang di jadikan benda lain. Penghancuran benda ini sangat merugikan karena tidak adanya pemikran bahwa benda ini adalah benda kuno yang seharusnya dilindungi. Hanya ada beberapa nekara saja yan masih ada dan itu pun di bawa Pemerintah Belanda ke negaranya di simpan di museum-museum. Tetapi secara mengejutkan rakyat pada zaman dahulu diam-diam menyimpan nekara di dalam gua.
Selain itu nekara pada zaman itu juga digunakan sebagai mas kawin, sehingga nekara tersbut akan berpindah tangan dari keluarga satu ke keluarga yang lain dan keluarga tersebut tidak selalu tinggal di Pulau Alor. Pada saat itulah awalnya timbul nekara-nekara baru. Di kabupaten Flores timur yaitu di pulau Andonara, Solor, dan Lembata nekara di simpan di para-para yang terletak di bawah atap rumah. Nekara tersebut hanya di turunkan pada waktu tertentu. Nekara dianggap sebagai tempat tinggal roh nenek moyang, sehingga harus di hormati dan di simpan di tempat rahasia. Di Pulau Bali nekara diletakkan di pura desa, ke-dudukan  nekara di Bali di sejajarkan dengan dewa dan mendapat sebutan Batara walaupun dalam tingkatan yang berbeda. Nekara hanya boleh diturunkan pada saat upacara-upacara tertentu.
Di Jawa nekara di anggap sebagai gong pada waktu baru ditemukan. Penemuan dua tipe nekara yaitu tipe Heger dan tipe Penjeng pada waktu yang bersamaan yaitu dalam peninggalan di Lamongan dan Kendal menunjukkan bahwa kedua tipe tersebut pernah di gunakan pada waktu yang bersamaan. Tetapi sangat di sayangkan bahwa temuan-temuan tersebut merupakan hasil penggalian oleh penduduk, dan ketika instasi yang berwenang mendapat laporan menggenai hal tersebut setelah waktu yang lama sulit untuk menentukan kepastian penanggalannya.

Kapak perunggu
Benda perunggu lainnya yang tergolong penting adalah kapak perunggu. Keterangan pertama tentang kapak perunggu diterbitkan oleh Rumphius pada awal abad ke-18. Sejak pertengahan abad ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal usulnya oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Kemudian penelitian ditingkatkan ke arah tipologi dan uraian distribusi, konsep religius mulai diterapkan berdasarkan bentuk dan pola-pola hasilnya.
Secara tipologis kapak perunggu dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu kapak corong dan kapak upacara. Kemudian Heekeren mengklasifikasikan kapak ini menjadi kapak corong, kapak upacara dan tembilang atau tajak. Pembagian ini diperluas lagi oleh Soejono yang membagi kapak perunggu menjadi 8 tipe pokok dengan menentukan daerah persebarannya.           

Bejana Perunggu
Di Indonesia ditemukan hanya dua bejana perunggu yaitu di Sumatra dan Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti kepis atau keranjang untuk tempat ikan yang diikatkan di pinggang di kala orang mencari ikan. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, yang diletakkan dengan pacuk besi pada sisi-sisinya. Pola hias pada bejana ini tidak sama susunannya. Bejana yang ditemukan di kerinci (Sumatra) berukuran panjang 50,8 cm dan lebar 37 cm. sebagian lehernya sudah hilang. Bagian leher ini dihiasi dengan pola huruf J dan diantara pola ini terdapat pola anyaman. Bagian pinggang dan tepi dihiasi pola tumpal.
Hiasan pada badan berupa pola huruf J dan pola anyaman. Pola huruf S terdapan di bagian tengah badan. Di dekat leher tampak logam berlekuk yang mungkin dipergunakan untuk menggantungkan bejana pada tali.
Beajana yang ditemukan di Asemjaran, Sampang (Madura) mempunyai ukuran tinggi 90 cm dan lebar 54 cm. hiasan pada leher terbagi atas tiga ruang, yaitu ruang pertama yang berisi lima buah tumpal berderet dan didalam pola ini terdapat gambar burung merak; ruang kedua yang berisi pola huruf J yang disusun berselang-seling tegak dan terbalik; dan ruang ketiga yang juga berisi pola tumpal berderet 4 buah. Di dalam pola tumpal terdapat gambar seekor kijan. Bagian badan bejana dihias dengan pola hias spiral yang utuh dan terpotong, dan sepanjang tepinya dihias dengan tumpal. Sepanjang pegangan dihiasi dengan pola tali.

Patung perunggu
Patung-patung yang ditemukan di Indonesia mempunyai bentuk berbagai macam, seperti bentuk orang atau hewan. Patung yang berbentuk orang antara lain berupa penari penari yang bergaya dinamis. Sikap dari patung tersebut ada yang lurus atau melompat dengan tangan ditarik ke belakang, ke samping dan ke depan. Semua gerakan ini seakan-akan menunjukkan babak-babak sebuah tarian. Patung yang tergolong besar hanya berukuran kira-kira tingginya 9,4 cm dan lebar antara ujung-ujung kedua tangan kira-kira 4,8 cm. ada beberapa patung diantaranya berupa sepasang penari yang dihubungkan pada sebelah lengan, muka dan telinga serta lingkaran di atas kepala. Patung-patung tersebut ditemukan di Bakinang (Riau), dan gayanya memperlihatkan persamaan-persamaan degan gaya seni Zaman Besi Awal di Kaukasia.
Sebuah patung berbentuk hewan ditemukan di Limbangan (Bogor). Patung yang menggambarkan seekor kerbau ini berukuran panjang 10,9 cm dan tinggi7,2 cm. kaki kiri dan tanduk kiri telah hilang. Sebuah patung lain ditemukan di tempat yang sama menggambarkan kerbau yang sedang berbaring. Arca-arca perunggu berbentuk manusia dalam keadaan berdiri dengan sikap bertolak pinggang dengan kedua tangan di paha ditemukan di Boogor. Patung perempuan sedang menenun sambil menyusui anaknya ditemukan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tetapi sudah dijual ke luar negeri.

Perhiasan Perunggu
Gelang dan cincin perunggu pada umumnya tanpa hiasan, tetapi ada juga yang dihias dengan pola geometris atau pola bintang. Bentuk-bentuk yang kecil mungkin hanya dipergunakan sebagai alat penukar atau benda pusaka. Gelang yang mempunyai hiasan pada umumnya besar dan tebal. Pola hias pada gelang-gelang ini berupa pola-pola tumpal, garis, tangga dan duri ikan. Pola hias lain adalah spiral yang disusun membentuk kerucut. Mata cincin yang berbentuk seekor kambing jantan ditemukan di Kedu (Jawa tengah). Bentuknya mirip dengan bentuk hewan dari gaya seni Ordos (Mongolia). Gelang dan cincin perunggu ini ditemukan hamper di semua daerah perkembangan budaya perunggu di Indonesia.
Senjata dan benda-benda perunggu lainnya
Senjatadanbenda-benda perunggu lainnyaantara lain sebagai berikut.
Ujung tombak berbentuk daun dengan tajaman pada kedua sisinya, terutama ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Belati ditemukan di Prajekan (Jawa Timur) dan Bajawa (Flores). Belati dari Prajekan bermata besi sedangkan gagangnya dibuat dari perunggu. Belati dari Flores merupakan sebuah belati yang seluruh gagang dan matanya dituang dari perunggu.
Mata pancing ditemukan di Gilimanuk (Bali) dan Plawangan (Jawa Tengah). Ikat pinggang berpola geometris berupa lingkaran tangen ditemukan di Prajekan (Jawa Timur). Penutup lengan ditemukan di sekitar Danau Kerinci (Sumatra Barat) dan Tamanbali (Bali). Slinder-slinder kecil dari perunggu yang merupakan bagian dari kalung, masing-masing berukuran panjang 2,3 cm dengan garis tengah 1,1 cm. Disetiap ujung silinder terdapat bentuk kepala kuda, burung atau kijang. Benda-benda ini ditemukan di Malang (Jawa Timur)
Kelintingan (bel) kecil dari perunggu berbentuk kerucut dengan celah di sisinya, dan sebuah alat penjabut janggut yang sederhana berbentuk huruf U. keduanya ditemukan di Sarkofagus (Bali)

Gerabah
Dalam masa perundagian, pembuatan gerabah telah mencapai tingkat yang lebih maju dari masa sebelumnya, Daerah penemuannya kaya akan ragamnya, Tampak sekali peranan dan fungsinya dalam masyarakat akan alat-alat gerabah yang tidak dapat dengan mudah di gantikan oleh yang di buat dengan logam (perunggu atau besi), Bukti-bukti yang di temukan dalan ekskavasi-ekskavasi arkeologi memberikan petunjuk bahwa alat-alat dan benda-benda di buat dari logam hanya mengeser kedudukan alat-alat batu.Gerabah sering ditemukan di tempat-tempat yang menghasilkan benda-banda perunggu dapat diangap memiliki nilai praktis di dalam masyarakat.
Ditinjau daricorak gerabahnya yang sudah jelas menunjukan tingkat yang lebih maju, gerabah melolo dapat di golongkan sebagai kompleks gerabah yang berkembang pada masa perundagian. Pada umumnya gerabah du buat untuk kepentingan rumah tangga akan tetati dalam upacara keagamaan gerabah dapat di gunakan sebagai wadah kubur, bekal kubur, atau peralatan upacara.
Gerabah dapat di bedakan sebagai wadah dan nonwadah.
Sebagai wadah adalah periuk, tempayan, cawan, piring, kendi/gogok, sedangkan nonwadah adalah bandul jala, patung, dan manik-manik.Sebegitu jauh usaha-usaha penemuan telah dilakukan, tetapi laporan khusus yang menyuguhkan pembahasan yang agak lengkap tentang gerabah dari masa perundagian ini bpleh di katakana belom ad, karena.Pada masa perundagian ditemukan kompleks di situs sa-huynh yang terletak di wilayah Vietnam, merupak satu kelompok situs Tran-long, phukhu-‘ong, long-than, dan than-cu.oleh pola hias gerabahnya. Oleh karena itu disebut kompleks gerabah sa-huynh.
Ada juga gerabah yang disebut dengan nama kompleks garabah kalanay.dalam perkembangannya keduannya kemudian disebut sebagai tradisi gerabah sa-huynhkalanay. Di wilayah serawak bagian tenggara ditemukan situs yang dikenal dengan nama Bau, memiliki kesamaan dengan sitis melayu, oleh karena itu disebut kompleks gerabah bau melaya(u). Kalau di wilayah daratan dan kepulauan asia mengenai sa-huynh kalanay dan Bau Malaya, di wilayah pasifik dikenal tradisi lapita.
Tradisi lapita ditemukan di kepulauan pasifik, yang terdiri dari gugusan kepulauan yakni Melanesia, mikronesia, dan polinesai. Di wilayah ini berkembang satu budaya di sebut lapita.Lapita nama sebuah situs yang terdapat di pulau new calidonia yang tingkat arkeologi dari sekitar 3000 BP. Gerabah dari masa perundagian mendapat pengaruh dari barat, misalnya dapat diambil dari kompleks gerabah buni, kompleks gerabah gilimanuk, dan kompleks gerabah kalumpang,yang berkembang di daratan asia tenggara.

Kompleks gerabah buni
Kompleks ini ditemukan pertama kali di desa Buni (Bekasi), kemudian meluas ke dearah timur di daerah aliran citarum dan sungai bekasi hingga ciparage di cilamaya. Gerabah ditemukan bersama-sama dengan tulang belulang, buni mengenal system penguburan langsung (tanpa wadah). Fungsi gerabah mungkin sebagai bekal kubur, tetapi mengingat bentuknya bermacam-macam serta jumlahnya sangat banyak tidaklah mustahil kalau gerabah tersebut dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.Buni mengenal paling sedikit dua macam gerabah,yaitu yang berwarna kemerah-merahan dan gerabah yang berwarna kelabu (keabu-abuan).
Gerabah yang berwarna kelabu pada umumnya dihiasa dengan cara mengecap, dan ada juga yang di goreskan sehingga menghasilkan pola, pola-pola itu terdapat lingkaran memusat dan bersilang seperti pola jarring atau anyaman.Hiasan lain goresan pada umumnya berupa pola tumpal di sekeliling leher atau badan atas atas jenis periuk atau cawan.
Gerabah yang berwarna merah pada umumnya dihiasi dengan menggoreskan pola-pola hias berupa garis sejajar, tumpul, kadang-kadang di beri warna merah atau putih. Contohnya gerabah dari Desa Cilodo (Rengasdengklok).

Kompleks gerabah gilimanuk
Sampai saat ini daerah penemuan gerabah gilimanuk terbatas di daerah bali bagaian barat yatu pantai Gilinamuk dan desa cekik.penemuan di Gilimanuk jelas sekali memperlihatkan hubungannya dengan tradisi penguburan masa perundagian. Jenis gerabah yang menonjol ialah periuk berlandaskan bundar dengan tepian melipat keluar. Beberapa jenis gerabah memperlahatkan olesan warna marah dan kuning, dan gerabah yang dindingnya diupam terhadap pula dalam koleksi gerabah Gilimanuk. Hiasan yang menonjol pada gerabah Gilimanuk ini ialah pola jaring yang mungkin di buat dengan tatap-tatapyang agak halus. Hiasan gores juga banyak ditemukan dengan pola-pola geometris (tumpal, garis berombak, dan sebagainya).  

Kompleks gerabah kalumpang
Nama kompleks ini berasal dari sebuah tempat bernama Kelumpang, penyelidikan terhapap daerah ini dilakukan oleh Stein Callenfels tahun 1933 dan oleh Heekeren tahun 1949. Kedau ahli berpendapat di kalumpang terdapat tiga lapisan kebudayaan atau lebih yang tercampur aduk satu dengan yang kain akibat kegiatan pertanian. Heekeren mecatat 955 gerabah Kelumpang tanpa hiasan yang olehnya di perkirakan  pada masa bercocok tanam. Ada jaga dugaan bahwa beberapa gerabah kalumpang berasal dari masa yang lebih tua , yaitu dari masa bercocok tanam.
Akan tetapi, Solheim memperkirakan sekurang-kurangnya tradisi gerabah kalumpang sebagai hasil suat masyarakat dari satu masa.Bagaimanapun persoalan umut tradisi gerabah ini tetap akan  gelap karena penelitian stratigrafis belum di lakukan dengan berhasil. Kalau ditinjau corak gerabah dari kompleks ini secara keseluruan, ternyata maa perkembangannya mancakup masa cocok tanam dan masa perudagian.selain itu yang perlu kita ketahui antara lain ialah Melolo di sumba timur dan pasir angin, hubungan tempat ini belum jelas, tetapi gerabahnya jelas berasal dari masa perundagian.
             Peningalan prasejarah yang di temukan di pasir angin berasal dari masa perundagian di daerah pedalaman jawa barat.pasir angin berhubungan dengan pemujaan nenek moyang mereka pada masyarakat megalitik, tulang-tulang manusia tidak ditemukan dalam ekskavasi-ekskavasi di pasar angin. pengalian tahun 1970, 1971, 1972, 1973, dqn 1975 oleh lembaga purbakala dan peninggalan nasional (LPPN) ternyata menemukan situs baru  tentang corak kepercayaan pada masa perundagian di daerah jawa barat.           

Manik-manik
Menurut Encyclopedia Americana (Vol. 3, 1967: 394-395) manic-manik yang dalam bahas ingris disebut “beads” berasal dari bahasa ingris tengah “bede” yang berarti “prayer” (“Objeck of worship” = benda untuk memuja)awalnya manik-manik di hubungkan dengan benda berkekuatan gaib/jimat yang berhubungan dengan religi dan upacara. Manik-manik juga dihubungkan dengan perdagangan.
            Di Indonesia, pemakian manik-manik umum sekali, pada tingkat kehidupan gua-gua, manik-manik di buat dari kulit kerang.pada tingkat perundagian ini manik-manik di buat dari bermacam-macam bahan dengan berbagia bentuk dan warna, dari batu akik, kaca dan tanah liat yang di bakar.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Pada masa perundagian manusia di Indonesia di desa-desa di daerah pegunungan,dataran rendah,dan tepi pantai dalam tata kehidupan yang terpimpin. Bukti-bukti dari adanya tempat-tempat yang berkembang pada masa itu tersebar antara lain Sumatra,Jawa,Sulawesi,Bali,Sumba,serta terdapat di pulau-pulau lainnya di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.di tempat-tempat itu ditemukan sisa-sisa benda perunggu,besi,gerabah.sisa-sisa ini merupakan peninggalan dari penghidupan yang sudah maju tingkatannya.melalui evakuasi di beberapa tempat telah ditemukan pula sisa-sisa bahan makanan (kerang,ikan,babi,dan sebagainya) dan rangka-rangka manusia yang merupakan bukti bahwa penguburan mayat dilakukan di sekitar tempat tersebut.
Melalui data dari perunggu-perunggu dapat di simpulkan bahwa rumah orang-orang merupakan rumah bertingkat tiang dengan atap melengkung,biasanya kolongnya merupakan tempat ternakdan rumah semacam ini didiami oleh beberapa keluarga.
Kemajuan yang dicapai dalam bidang tenologi  yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan kehidupan serta adanya surplus dalam memenuhi keperluan hidup itu meningkatkan jumlah penduduk di mana-mana.Timbullah desa-desa besar yang merupakan gabungan dari kampung-kampung kecil.dalam tata kehidupan yang teratur berburu binatang merupakan sebagian dari mata pencaharian juga dimaksudkan untuk menunjukkan keberanian dan kegagahan.perburuan dilakukan dengan menggunakan tombak,panah,dan jerat.
Anjing digunakan untuk mengeejar dan membingungkan binatang yang diburu. Pertanian atau perladangan merupakan lahan percaharian yang tetap. Untuk menyempurnakan usaha pertanian diciptakan alat-alat dari logam,terutama untuk pengolahan sawah. Untuk menjaga tanah supaya teteap subur pada waktu tertentu,diadakan upacara-upacara yang melambangkan permintaan kesuburan tanah dan kesejahteraan masyarakat.
Kehidupan Sosial-Budaya
Seni ukir yang diterapkan pada benda-benda megalitik dan seni hias pada benda-benda perunggu mengambarakan penggunaan pola-pola geometris sebagai pola hias utama. Selain berkembangnya berbagai variasi dalam pembuatan benda-benda dalam pola hias,terdapat kecenderungan yang bersiafat simbolis dan abstrak-statistis.
Yang sangat menonjol pada masa perundagian ini adalah kepercayaan kepada pengaruh arwah nenek moyang terhadap perjalanan manusia dan masyarakatnya.karena itu arwah nenek moyang harus selalu diperhatiakn dan dipuaskan melalui upacara-upacara. Demikian juga kepada orang yang meninggal penguburan orang yang meninggal dilaksanakan dengan cara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder).
Kubur tempayan di Indonesia ditemukan antara lain di Jambi,Lesungbatu,(Sumatra Barat;Punggung Tampak (Lampung);Lahat (Sumatra Selatan); Bengkulu ; Tile-tile (Selayar,Sulawesi Selatan);Sulawesi Temgah; Sulawesi Utara;Anyer dan Buni (Jawa Barat);plawangan;Bonang Sluke (Jawa Tengah);Gilimanuk (Bali);Melolo,Lampanapu,Kolana,Lewoleba dan Flores Timur (Nusa Tenggara Timur). (D.D.Bintarti,1987, hlm.75-184)
Penelitian kubur tempayan dilakuakn sejak tahun 1908 di Menolo dan digali pada tahun 1923,1926,1939 oleh orang Belanda,pada tahun 1985,986, dan 1990 di gali oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh D.D.Bintarti.Tempayan ialah jenis gerabah yang berukuran paling besar di bandingkan dengan jenis gerabah lainnya.Tempayan sering kali digunakan untuk wadah bahan-bahnan makanan atau minuman hasil produksi lokal yang dijajakan dan diperdagangkan ataupun yang disimpan untuk beberapa waktu lamanya.
Penguburan dengan menggunakan sarana batu dapat disebutkan antara lain: dolmen(reti),peti kubur batu,bilik batu,kalamba,waruga,sarkofagus,kubur silindris,dan batu besar yang dilubangi. Penguburan tanpa wadah dilakukan secara primer dan sekunder. Pada penguburan primer mayat ditanam membujur (terlentang) disertai bekal kubur (periuk,kendi,benda-benda perunggu,benda-benda besi dan sebagainya). Sedangkan penguburan secara perimer ini di berikan bekal kubur yang lazim ,seperti terlihat pada temuan kubur yang ada di Gunung Wingko ,sebuah bukit pasir di selatan Yogyakarta.

Simpulan
Pada zaman perundagian manusia sudah menggunakan logam sebagai pealatan yang digunakan, tetapi manusia pada zaman tersebut juga masih menngnakan batu sebagai peralatan yang di gunakan sehari-hari. Peralatan logam sudah berkembang tidak hanya digunakan sebagai peralatan saja tetapi logam juga digunakan untuk pembuatan perhiasan dan pendukung upacara adat.


DAFTAR PUSTAKA

Soejono,R.P.2010.Sejarah Nasional Indonesia I.Jakarta: Balai Pustaka.

Kartodirdjo,Sartono dkk.1975.Sejarah Nasional Indonesia.Jakarta:Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

Soekadijo,R.G.1958.Prasedjarah.Solo: ”Tiga”.


Van Den Berg,H.J dan S.Baganding Tua.1958.Prasedjarah dan Pembagian
sedjarah Eropah.Jakarta:Dinas Penerbitan Balai Pustaka Djakarta.

Suprapta,Blasius.1991.Ikhtisar Prasejarah indonesia (pendekatan Model
Konsepsi Teknologi).Malang: Laboratorium Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Malang.

Fagan Brian M.1992.People Of The Earth An Introduction to World
Prehistory.New York:Harper Collins Publishers.

Soekmono.R.1981.Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I.Yogjakarta:
Kanisius(anggota IKAPI). Koentjaraningrat.2005.Pengantar Ilmu
Antropologi.Jakarta: Rineka Cipta



Categories:


Bagaimana menurut anda blog ini? Bila anda menyukai artikel ini, saya akan sangat senang sekali jika anda bersedia memberikan G +1 ataupun me-Share artikel ini. .Terima kasih. follow me in twitter Sigit Sejarah

7 comments:

  1. Terimakasih akang.. Membantu sangat untuk tugas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih sudah berkomentar.. ini membuat semangat penulis haha

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. artikelnya bagus gan, smoga artikel saya dapat saling melengkapi
    .
    www.markijar.blogspot.com/2015/04/tradisi-sejarah-masyarakat-indonesia.html

    ReplyDelete
  4. thank gan sudah meninggalkan jejak

    ReplyDelete